Ilmunesia - Rupa-rupa Profesi Dunia Broadcasting, Tertarik?

Rupa-rupa Profesi Dunia Broadcasting, Tertarik?

Rupa-rupa Profesi Dunia Broadcasting, Tertarik?

ilmunesia.com – Dunia broadcasting menjadi salah satu incaran menarik bagi pencari kerja dalam beberapa waktu terakhir. Apalagi di era kebebasan dan keterbukaan seperti saat ini, hak warga Indonesia untuk menyalurkan pemikiran dan ide kreatifnya pun terjamin. Oleh karena itu, tak sedikit pula jobseeker yang mencoba peruntungannya menjadi broadcaster.

Lantas apa saja profesi-profesi yang ada di dunia broadcasting? Apa keterampilan yang harus dimiliki? Haruskah lulusan berasal dari jurusan tertentu? Simak juga serunya dunia broadcasting berikut ini ya!

Profesi untuk semua

Ada dua macam perguruan tinggi yang mengarahkan mahasiswanya terjun ke dunia broadcasting. Pertama adalah perguruan tinggi yang memang berfokus dalam dunia broadcasting, misalnya Sekolah Tinggi Multi Media (STMM) MMTC di Yogyakarta. Kedua yaitu perguruan tinggi yang mempunyai satu fakultas atau jurusan untuk fokus di bidang media, seperti UGM, Universitas Padjadjaran, dan universitas lain pada umumnya.

Meskipun demikian, menurut Nuradityani Dewiningtiyas, Creative Officer RCTI,  tak ada perbedaan signifikan dari lulusan kedua perguruan tinggi tersebut. “Perbedaan kualitasnya mungkin lebih kepada praktik di lapangan. Alumnus sekolah tinggi broadcasting tentu bisa dikatakan lebih paham teknis. Ilmu broadcasting itu bisa dipelajari siapa saja dan dari jurusan apa saja,” ujar Tiyas, sapaan akrabnya.

Salah satu profesi yang dikenal dalam dunia broadcasting adalah wartawan. Profesi wartawan sendiri terbuka bagi semua latar belakang pendidikan. Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi UGM, Wisnu Martha Adiputra, SIP, MSi, mengatakan, profesi ini tergolong unik karena orang-orang yang berkecimpung di dalamnya bukan hanya lulusan ilmu komunikasi.

Beberapa di antaranya ada yang berasal dari ilmu ekonomi atau ilmu pertanian kemudian menjadi wartawan karena pernah tergabung dalam pers mahasiswa. Ada juga orang-orang yang berasal dari ilmu komunikasi, setelah bekerja menjadi wartawan lalu disekolahkan oleh lembaga media yang bersangkutan untuk mendalami fokus ilmu tertentu. “Jadi memang ada dua jalan karena wartawan itu kan profesi terbuka, enggak bisa hanya ilmu komunikasi saja,”ujar Wisnu.

Menurut penjelasan Wisnu, dunia broadcasting memiliki dua konten yang berbeda. “Pertama, media dalam konteks berita, itu yang jurnalisme. Kemudian media yang bukan jurnalisme, dalam konteks hiburan. Jadi kan nanti mahasiswanya memilih, mau jadi wartawan atau di acara hiburannya, misalnya penulis naskah sinetron,” papar Wisnu.

Bukan cuma wartawan, ada profesi unik lainnya dalam dunia broadcasting

Menurut Roseita Deseiana, Senior Creative Officer RCTI, dari segi konten, saat ini dunia broadcasting semakin kompetitif karena semakin banyak stasiun TV bermunculan. Sebelum UU Pers diterbitkan, menurutnya, satu program saja sudah pasti akan ditonton orang. Sedangkan saat ini tiap program harus punya keunikan tersendiri agar menarik penonton.

Makin banyak program dan stasiun TV yang bermunculan juga memunculkan istilah atau profesi-profesi baru. Sebelum bekerja di RCTI, Itonk, sapaan akrab Roseita Deseiana, pernah bekerja di TransTV dan ANTV. Berdasarkan pengalamannya tersebut, terdapat satu profesi baru yang sebelumnya belum pernah ada, yaitu still photo yang ada di TransTV. “Divisi ini dulunya tidak ada. Isinya para fotografer profesional yang memang bertugas untuk memfoto dan mendokumentasikan program acara dalam bentuk foto,” kata Itonk.

Terkait erat dengan media sosial

Sebagian orang mengira bahwa media sosial termasuk dalam jenis broadcasting. Padahal media sosial dan broadcasting berbeda meskipun sama-sama bisa diakses khalayak ramai. Wisnu menjelaskan bahwa broadcasting yang bisa kita akses secara gratis atau free to air adalah radio dan siaran televisi, sedangkan media sosial merupakan bagian dari internet.

Mendukung pernyataan Wisnu, Tiyas mengatakan, meskipun broadcasting dan media sosial berbeda, keberadaan media sosial tak dapat diabaikan. “Dari media sosial, kita bisa memeroleh informasi terkini secara cepat untuk kemudian mengolahnya menjadi berita yang layak tampil di TV. Pun media sosial kerap dijadikan ajang promosi program,” ucap Tiyas.

Ia menambahkan, animo masyarakat terhadap suatu program dapat dilihat dari media sosial, misalnya saat live program Indonesian Idol, pemirsa di rumah bisa mengirimkan komentar melalui Twitter dan dibacakan oleh pembawa acara.

Apa tantangannya? 

Meskipun sama-sama berada pada ranah broadcasting, tentu ada tantangan tersendiri bagi orang-orang yang terlibat di dalamnya. Arga Dumadi, penyiar radio Rakosa FM, pernah menjajal siaran radio maupun televisi. Arga mengawali karirnya di dunia broadcasting pada 2013 dengan membawakan program Jawa Style di Jogja TV.

Kemudian pada Januari 2014, ia mulai membawakan berita di TVRI Jogja yaitu dalam program Kanal 22. Menurut Arga, perbedaan membawakan acara di TV dan radio terletak pada lama persiapan. Di TV, Arga harus berdandan sebelum tampil di depan layar sehingga mengharuskannya untuk datang lebih awal. “Kalau di radio, karena media cuma media suara, gimana caranya kamu bisa berekspresi tanpa orang lain melihat mukamu, harus pandai mengatur intonasi,” tutur Arga.

Dalam hal penyampaian berita pun Arga mengaku lebih berat untuk siaran di TV. Berdasarkan pengalamannya belajar di TVRI, Arga harus menghafalkan berita yang akan disampaikan sehingga ia diwajibkan membaca script sebelum on air.

“Ketika orang istirahat, itu justru saat yang tepat untuk kita bekerja.”

Bekerja di dunia broadcasting memang menantang, apalagi saat hasil karya diapresiasi masyarakat. Kebanggaan inilah yang dirasakan oleh Wiwit Novia Susanti, Creative Program Gebyar BCA NET TV. Tentu dalam pembuatan sebuah karya yang apik, dibutuhkan sebuah pengorbanan. “Enggak bisa dimungkiri, ketika saat-saat orang istirahat, itu justru saat yang tepat untuk kita bekerja. Kita harus menghasilkan sesuatu yang bisa menghibur mereka ketika mereka sedang beristirahat,” kata Wiwit. Tak jarang Wiwit dan timnya merelakan akhir pekan untuk bekerja karena jam kerja harus disesuaikan dengan para talent dan  pengisi acara.

Ketika orang istirahat, itu justru saat yang tepat untuk kita bekerja.

Bekerja di dunia broadcasting itu menarik dan penuh tantangan bukan? Apalagi saat ini media penyiaran masih sangat dibutuhkan oleh masyarakat Indonesia, baik untuk hiburan maupun informasi. Tertarik dan siap memberikan yang terbaik untuk masyarakat Indonesia? [CN]

 

Foto : Istimewa
Sumber : http://careernews.id/issues/view/3134-Rupa-rupa-Profesi-Dunia-Broadcasting-Tertarik

LEAVE A COMMENT